WAWANCARA DENGAN CALON BUPATI, KALAU SAYA JADI BUPATI
Tanggal Posting : Sabtu, 10 Oktober 2015 | 12:29
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 794 Kali
WAWANCARA DENGAN CALON BUPATI, KALAU SAYA JADI BUPATI
Ilustrasi Kepala Daerah

SUKSESINDONESIA.COM - Orang katakan: "Ngomong itu gampang". Saya kira ini memang benar kalau yang dimaksud: omong sembarangan, omong kosong. Tetapi "ngomong" menjadi tidak gampang kalau di dalamnya harus terkandung bobot, ide, sasaran, daya pikat dan keteraturan. Jika syarat-syarat tersebut harus dipenuhi saban kita mau ngomong, maka ngomong itu malah menjadi sangat sukar. Jika semua orang mau menaati itu secara penuh, utuh, maka dunia manusia menjadi lengang. Artinya, omongan menjadi sangat langka. Bukankah yang paling banyak menendang gendang telinga kita saban hari adalah omong kosong !!!

Saya terlebih dulu minta maaf. Apa yang bakal mengisi kolom kita saat ini dengan sadar diakui sebagai omong kosong. Judulnya: "Kalau Saya Jadi Bupati". Omong kosong ini saya susun dalam bentuk wawancara.

Tanya: Jika umpama Anda diangkat atau dipercaya menjadi Bupati, apa yang pertama-tama Anda lakukan?

Jawab: Pertama-tama, saya bersyukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa dan memohon perlindungan dan bimbingan-Nya agar saya mampu melaksanakan kepercayaan dan amanah yang diletakkan diatas pundak saya. Doa selanjutnya berbunyi kurang lebih seperti ini: "Kalau ternyata sebentar saya tidak mampu melaksanakan tugas, atau menyimpang dari garis lurus amanah dan sumpah jabatan, kiranya Tuhan Yang Mahakuasa menggerakkan hati dan tekad atasan saya agar segera mencabut kedudukan saya. Tolong, jangan biarkan saya sampai keasyikan."

Tanya: Kenapa Doa Anda berbunyi begitu?

Jawab: Saya percaya bahwa kekuasaan cenderung mendorong orang menjadi lupa diri dan merasa kebenaran selalu di pihaknya. Kecenderungan ini bisa berkembang kearah merasa terancam. Perasaan ini seterusnya menggerakkan langkah "memasang kuda-kuda" atau katakanlah itu semacam pembentukan "rezim". Kalau hal ini sampai terjadi, itu berarti amanah saya selewengkan. Saya sangat mengharap, sebelum itu terjadi, saya sudah terlempar dari kedudukan atau kekuasaan saya itu. Itulah isi kandungan harapan doa saya.

Tanya: Bagaimana hubungan kerja Anda dengan staf dan segenap aparat?

Jawab: Saya akan berusaha semaksimal mungkin menciptakan iklim yang segar yang senantiasa menopang kelugasan (yang wajar), kerja sama, harga menghargai satu sama lain, harmoni. Saya harus selalu menyadari bahwa sayalah pengambil keputusan dan segenap anggota staf adalah pembantu saya. Saya, sebagaimana halnya yang lain, adalah manusia biasa. Tetapi sebagai pemimpin, saya harus mempunyai kelebihan, kemampuan dan keteladanan. Yang dimaksud kelebihan ialah antara lain; lebih dapat menahan diri, lebih mampu bekerja, lebih rendah hati. Kelebihan-kelebihan inilah yang harus menjadi kemampuan tersendiri yang dapat diteladani oleh bawahan saya. Sebagai pemimpin, saya harus mampu menjauhi tindak-tanduk dan sikap sembarangan. Tidak boleh sembarangan curiga, sembarangan menuduh. Pokoknya, tidak boleh sembarangan dalam hal apa saja.

Tanya: Bagaimana tentang efektivitas kerja?

Jawab: Seluruh staf harus efektif dalam bidangnya masing-masing. Ketika misalnya seorang yang berkepentingan menemui saya di kantor, urusannya terlebih dulu sudah diproses oleh staf sesuai bidangnya. Jadi, saya tidak perlu mempinpong melayani orang. Ketika dia (atau mereka) tiba di hadapan saya, "peta" persoalan sudah tergambar jelas, sisa menunggu keputusan: "ya" atau "tidak". Jadi, saya dapat menerima tamu sebanyak-banyaknya dan juga dapat mengambil keputusan sebanyak-banyaknya. Jadi tamu-tamu terlayani semua.

Tanya: Bagaimana tentang jam kerja

Jawab: Mengenai itu, saya kira, sudah ada ketentuan yang berlaku secara umum. Tetapi baiklah saya jawab begini. Pukul Tujuh lewat lima belas menit paling lambat, saya mesti sudah berada di kantor. Ini penting sekali, mengingat disiplin kita masih sangat rendah. Kalau saya sendiri malas masuk kantor, bagaimana yang lain. Jadi, segala yang menyangkut tugas dan tanggung jawab harus diprogramkan di kantor. Kalau ada peninjauan lapangan, inspeksi, upacara atau memenuhi undangan lainnya pada jam-jam kerja, harus start dari kantor. Pokoknya saya harus betah di kantor dalam cuaca apapun. Kalau terpaksa meninggalkan kantor pada jam-jam kerja, harus ada alasan yang kuat bukan hanya dapat diterima akal, tetapi juga dibenarkan nurani.

Ilustrasi PNS

Tanya: Benar-benar Anda bisa konsisten dengan sikap seperti itu?

Jawab: Mengapa tidak? Terpokok, saya harus selalu bersih. Tidak terlibat dalam persekongkolan dengan pihak siapapun, yang bertujuan jelek, menguntungkan diri sendiri. Selama tidak ada monyet bertengger di pundak saya, langkah-langkah saya akan selalu pasti, tidak ragu-ragu.

Tanya: Masih adakah yang ingin Anda katakan?

Jawab: Masih banyak. Banyak sekali. Tetapi apa kira-kira gunanya, kalau semua itu cuman OMONG KOSONG?

Be Inspired ! Sukses Indonesia




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait