WARTAWAN KOBOI
Tanggal Posting : Kamis, 17 September 2015 | 10:03
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 577 Kali
WARTAWAN KOBOI
Ilustrasi Wartawan

SUKSES INDONESIA - Barnabas (bukan nama sebenarnya) sesungguhnya cukup cerdas. Pendidikan formalnya cukup lumayan: semi akademis. Sedikit banyak, dapat berbahasa asing, yaitu Inggris dan Jepang. Kalau sekarang memilih kewartawanan sebagai profesi, bukanlah sebuah cita-cita yang utama. Dunia kuli tinta dimasukinya karena terpaksa setelah dipecat tidak hormat sebagai anggota satuan intel. Dipecat dengan tidak hormat, konotasinya jelas; tidak becus.
Ketika ia masih melaksanakan tugas sebagai seorang intel, masyarakat terutama para pejabat dibuatnya tidak tenteram. Macam-macam “file”, “info”, “gosip”, “isu” dilontarkan dan dihangat-hangatkan, tetapi dengan cara selalu berbisik-bisik dan berdua-duaan, tujuannya tak lain untuk kepentingan pribadi, apakah itu bernama uang atau pemuasan sadismenya.
Barnabas bekas intel yang dipecat tidak hormat ini, berjaya kembali dalam profesi barunya sebagai wartawan. Hampir dimana-mana, orang takut padanya. Dengan tubuh atletis dan lincah, ia bisa saja tiba-tiba muncul di hadapan Bupati Anu, Gubernur Anus, Kakanwil Anu. Dengan hati menggerutu memaki-maki, bapak-bapak yang terhormat itu terpaksa berpura-pura tersenyum menyambut kedatangannya. Barnabas tidak peduli apa yang ada didalam hati pejabat tersebut, yang penting bagaimana mengeksploitasi ketakutan mereka menjadi sesuatu yang menguntungkannya.
Orang-orang yang mengetahui persis praktik-praktik jurnalistik Barnabas, yang merupakan reinkarnasi dari praktik-praktik intelnya dulu, tidak berhenti bertanya; masih adakah hati nurani dalam diri orang seperti Barnabas? Agak susah memberi jawaban pasti. Yang jelas, ia “menikmati” rasa takut orang. Ia bahagia menyaksikan orang lain terpelanting. Ia merasa puas melihat orang hancur.
Kebiasaan memukul, menista, meneror dan berbagai perbuatan buruk lainnya, menumbuhkan “tatanan baru” dalam jiwanya. Barangkali pada mulainya ia juga merasa berdosa saban melakukan perbuatannya. Tetapi lama kelamaan, tanpa disadarinya perasaan berdosa itu terhapus perlahan-lahan. Dan akhirnya habis sama sekali. Di titik ini, orang lantas menerima akibat negatifnya mekanisme adaptasi itu.
Be Inspired ! Sukses Indonesia




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait