Smart City Sekadar Slogan Dan Teori Revolusi?
Tanggal Posting : Senin, 31 Oktober 2016 | 10:01
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 184 Kali
Smart City Sekadar Slogan Dan Teori Revolusi?
Konsep Smart City, Slogan atau Revolusi

KOLOM TELEMATIKA - Hijrah bisa dimaknai perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu keadaan yang satu ke keadaan yang lain (kebodohan/stupid ke kecerdasan/smart).

Ada sesuatu yang ditinggalkan, ada sesuatu yang dituju. Meninggalkan hal-hal yang buruk menuju hal yang baik.

Dalam konteks Kota dan Daerah, hijrah dimaknai perpindahan dari suatu sistem dari sistem yang bisa terdiri dari struktur fisik, entitas manusia dengan segala interaksinya dan informasinya termasuk pengelola/pemerintahannya. Membangun kota atau daerah sama dengan membangun peradaban, karena suatu kota atau daerah tidak hanya terdiri dari bangunan saja tetapi segenap kehidupan manusia dan segala aktivitas di kotanya.

Kondisi kota atau kabupaten di Sulsel yang mungkin disebabkan karena urbanisasi telah menyebabkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan kota dan kabupaten di Sulsel. Kemacetan, banjir, kesehatan, lingkungan kota, kejahatan jalanan, dll telah menjadi persoalan kota dan kabupaten di Sulsel akhir-akhir ini.

Selain persoalan karakter manusia yang melupakan atau ketidakmengertian akan mengendarai kendaraan, membuang sampah, berkomunikasi santun, korupsi, kejahatan jalanan dll juga telah memberikan suatu konstribusi ketidaknyamanan kehidupan di kota-kota besar di Indonesia termasuk di Sulsel.

Teknologi yang juga merupakan karya besutan manusia yang diharapkan bisa menghasilkan solusi persoalan kota, seperti Internet of things, Machine to Machibe, sensor, big data hingga Cloud computing, Namun demikian, tak cukup dengan teknologi bisa menyelesaikan persoalan kota/kabupaten di Sulsel dengan baik, jika tidak ada tata kelola atau program kerja dari pemerintah kota/kabupaten yang baik untuk mengubah atau hijrah ke suatu peradaban yang lebih baik.

Hijrah bisa dikaitkan dengan inovasi yaitu suatu cara atau metode baru atau gabungan dengan yang lama dimana memberikan dampak yang lebih baik. Hijrah Smarter City adalah transformasi/pembangunan dari kota/kabupaten yang belum baik menuju kota/kabupaten yang lebih baik. 

Kota cerdas alias smart city akhir-akhir ini banyak digaungkan dan mencuat di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan, beberapa forum juga telah diperhelatkan, hingga tukar menukar aplikasi telah mulai dilakukan.

Akan tetapi, ironisnya, beberapa persepsi mengenai smart city perlu dikuatkan lagi, karena ada juga yang mengira bahwa smart city adalah kota yang mempunyai command center atau kota yang mempunyai banyak aplikasi.

Ada kasus, suatu kota mempunyai suatu aplikasi tertentu, tetapi warganya tidak tahu bagaimana cara menggunakannya, ada juga aplikasi namun sangat sulit diakses masyarakat karena ketersediaan infrastruktur untuk internetan yang kurang memadai. Demikian juga ruang operasi atau ruang komando, masih banyak yang dipakai sebagai ruang pamer saja. Semuanya, hanya sekadar konsep, slogan bukan sebuah revolusi.

Rumit memang, tetapi itulah makna hijrah, yang bisa dimulai dari orang sebagai pribadi hingga pemimpin, birokrat yang mempunyai otoritas memutuskan untuk bertransformasi.

Transformasi kota menjadi smart city, tidaklah sederhana dengan aplikasi dan dilakukan dalam waktu singkat, tetapi perlu evolusi dan komitmen yang luar biasa antara pimpinan, birakrasi dan juga keterlibatan masyarakat.

Konsep gotong royong (co-creation), juga suatu mekanisme yang baik sehingga melibatkan segenap unsur yang menjadi pemangku kepentingan.

Model pembangunan smart city sudah merupakan kebutuhan bukan sekadar slogan saja. Jika tidak, efeknya nanti akan banyak kota atau kabupaten jalan dengan masing-masing caranya atau vendornya yang akhirnya malah menjadi sulit berintegrasi.

Penulis, Hendra Abdi merupakan penggiat inovasi transformasi kearah Digital Life.




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait