SESUDAH UPACARA WISUDA SARJANA BESOKNYA JADI PENGANGGURAN
Tanggal Posting : Senin, 21 September 2015 | 13:36
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 521 Kali
SESUDAH UPACARA WISUDA SARJANA BESOKNYA JADI PENGANGGURAN
Ilustrasi Acara Wisuda

SUKSESINDONESIA - Nyonya Ika Lestari sudah dua puluh tahun menjanda. Umurnya masih sangat muda ketika suaminya meninggal dunia. Demi dua orang anaknya, Farid dan Farida, ia menolak semua laki-laki yang pernah melamarnya. Ia memegang teguh sumpahnya di hadapan jenazah suaminya bahwa ia tak bakal disentuh laki-laki lain hingga akhir hayatnya.

Pekerjaan apa saja, yang halal tentunya, dan patut dikerjakan kaum ibu dilakukannya. Semua itu demi menghidupi kedua anak tercinta. Berkat kerja kerasnya itu, ia terbukti mampu mempertahankan keberadaan sebuah keluarga kecil yang terhormat di tengah-tengah masyarakat.

Anak sulungnya, Farid, wajahnya mirip sekali ayahnya, tetapi sejak usia prasekolah, ketahuan menderita kelemahan mental. Nyonya Ika berusaha keras menolongnya, tetapi sia-sia semua. Akhirnya, ia menerima kehadiran anaknya itu sebagai takdir yang senantiasa menguji kesabaran dan tanggung jawabnya sebagai ibu, yang sekaligus merangkap sebagai ayah.

Kebalikan dari Farid, Farida sangat cerdas. Ia selalu tampil merebut tempat bintang kelas sejak SD hingga SMA. Di kamar pribadinya, terpajang tiga lembar piagam yang terbingkai manis yang membuktikan pengukuhannya sebagai siswa teladan di SD, SMP, dan SMA. Bukan sekadar kecerdasan yang membuahkan semua itu. Farida menyadari betul bahwa segala prestasi yang diraihnya adalah terutama hasil pengkodisian iklim yang dibangun ibunya. Suasana dalam rumah terasa asri, dan saling menghargai. Memang, di benak ibunya tak ada pilihan lain, kecuali mendukung serta mendorong Farida kearah mengambil alih tanggung jawab keluarga pada waktunya kelak. Pengalihan tanggung jawab ini menjadi suatu yang serius, bukan lantaran si ibu yang ingin segera istirahat, melainkan memikirkan nasib Farid yang seumur hidup bergantung pada orang lain.

****

DI HATI Ika Lestari, tumbuh dan terpelihara sebatang pohon harapan yang berdaun rindang. Itulah sebabnya, betapapun beratnya beban hidup, wajah dan penampilannya selalu tampak cerah. Ia tampak jauh lebih muda dari usia sesungguhnya. Jika ia berjalan bersama Farida, orang menyangka kakak beradik. Jika ada pengagum Ika Lestari, maka yang pertama adalah Farida sendiri. Bukan hanya lantaran kepimpinan dan keibuannya yang tulus ikhlas, juga karena kemampuannya memelihara kesehatan dan kecantikan alamiahnya. Farida selalu merasa bangga jika orang mengagumi penampilan dan kecantikan ibunya.

Pohon harapan yang berdaun rindang yang tumbuh di hati Ika Lestari tak lain adalah Farida sendiri, si anak cerdas yang selalu berprestasi itu. Pohon itu telah berbunga dan segera berbuah. Anehnya, di saat itu tiba-tiba muncul rasa cemas di hati Ika Lestari. Kecemasan itu, membuat energinya terkuras habis.

****

UNDANGAN menghadiri upacara wisuda anaknya, Farida dibacanya berkali-kali. Sepuluh, duapuluh, tigapuluh. Ia makin cemas. Sungguh aneh. Kerinduan hadir dalam upacara wisuda Farida mengental di hatinya sejak lima tahun terakhir. Kerinduan yang menyesakkan dada itu, segera mencair di hadapannya. Kok aneh, mengapa cemas dan bingung ? Ia perlahan-lahan menyebut nama anaknya: F-A-R-I-D-A. Kemudian didepan nama itu dilengkapi gelar : d-o-k-t-o-r-a-n-d-a.

Ika Lestari mengatupkan kedua kelopak matanya. Tampak dibalik mata terkatup itu, gambar hidup yang bergerak perlahan, slow motion; ia melihat serombongan gadis-gadis penyandang gelar sarjana, yang masing-masing mengapit map berisi segala macam ijazah dan piagam keluar masuk kantor mencari lowongan. Ia menarik napas panjang. Rombongan itu membengkak dan akan membengkak terus jumlahnya. Farida segera bergabung kedalamnya.

Ika mengunci pintu rumah. Sejumlah ketukan silih berganti. Tak dilayaninya. Ia berlari ke kamarnya, menghempaskan tubuhnya keatas ranjang dan menangis lirih sekali. Ia berbisik ke hatinya sendiri: "Tujuh belas tahun Farida bersekolah dengan segala ketekunan dan kesabaran. Hari ini, Farida terdaftar sebagai penganggur." Meskipun demikian, betapapun pahitnya itu, ia tetap yakin bahwa tak ada sesuatu yang terjadi tanpa mengandung hikmah.

Ia tenang kembali. Ia berserah diri ke hadirat Tuhan Yang Maha Tahu. Tak akan selembar daun copot dari tangkainya tanpa seizin-Nya.

Be Inspired ! Sukses Indonesia




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait