Relawan Medsos Sebagai Benteng Dunia Maya
Tanggal Posting : Senin, 4 September 2017 | 11:04
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 149 Kali
Relawan Medsos Sebagai Benteng Dunia Maya

SUKSESINDONESIA - Kabarnya, lima orang relawan Pro Jokowi (Projo) tiap hari stand by di dunia maya. Sebagian ada yang berkumpul di markas DPP Projo, organisasi kemasyarakatan pendukung Presiden Joko Widodo, Jalan Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan.

Para relawan ini memantau beragam aneka konten yang bertebaran di jaringan sosial media (medsos), khususnya yang sekaitan dengan Jokowi. Jika menemukan konten yang sifatnya SARA, berbau fitnah, atau menghina Jokowi, Projo tak segan langsung melaporkannya ke pihak berwajib.

relawan-medsos-presiden-jokowi-menghadapi-pilpres-2019

“Kami selalu memantau, melihat dan melaporkan. Beberapa ditindak dengan langkah hukum. Seperti kasus penghinaan kepada Presiden Jokowi,” ujar Ketua DPP Projo, Budi Arie Setiadi, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Selain dilaporkan ke polisi, Projo juga memberi perlawanan serangan para haters Jokowi melalui akun Facebook Projo. Tim Projo membuat dan menyebarkan meme tandingan guna meluruskan isu, atau fitnah tak benar yang bertujuan menjatuhkan popularitas Jokowi.

“Soal utang negara. Kan tidak semuanya benar jika utang di pemerintahan Jokowi yang Rp.3.500 triliun. Ada utang pemerintah juga sebelumnya, tanpa bermaksud menyalahkan pemerintah sebelumnya,” kata Budi.

Tak hanya itu, meme yang berisi pesan damai dan persatuan bangsa juga disebarluaskan. Projo bahkan menggelar lomba meme "Cinta Indonesia". Pemenang lomba rencananya diumumkan dalam Rakernas Projo, September ini.

relawan-medsos-jokowi-menghadapi-pilpres-2019

Budi juga menyesalkan tindakan sebagian kelompok aktivis di sosial media yang selalu menyebarkan isu-isu bersifat SARA, contohnya kelompok Saracen yang beberapa waktu lalu ditangkap Bareskrim Polri. Isu SARA, Fitnah yang disebarkan di warganet itu sangat potensial memecah belah bangsa Indonesia.

“Kalau isu politik, nggak apa-apa, itu bisa diterima. Kritik boleh saja karena negara demokrasi itu perlu kritik. Tapi dia (Saracen) isinya banyak fitnah karena informasinya banyak bohong,” ujarnya.

Menurut Budi, tim medsos Projo bisa saja ditambah jadi total 50 orang menjelang Pilpres 2019 nanti. Penambahan personel bukan tanpa alasan. Karena, tugas pasukan medsos Projo dalam pagelaran pilpres akan sangat banyak dan berat.

“Rencananya akan ditingkatkan menjadi 50 personil menjelang Pilpres 2019. Akun-akun Projo di daerah juga sebenarnya sudah banyak, karena sudah tersebar hampir di seluruh provinsi,” kata Budi.

relawan-medsos-jokowi-di-pilpres-2019

Kiprah relawan Projo di sosial media juga dibenarkan Michael Umbas, salah seorang relawan pro Jokowi. Para relawan presiden Jokowi lainnya sampai sekarang masih aktif memonitor kegiatan Presiden serta kebijakan dan programnya sekaligus mengcounter isu-isu negatif maupun hoax di sosial media.

“Para relawan Jokowi biasanya spontan saja. Kebetulan relawan Jokowi banyak yang passionnya memang di dunia cyber,” tutur Umbas.

Sikap berbeda justru diambil oleh Jokowi Advanced Social Media Volunteers (Jasmev). Jasmev aktif sebagai relawan medsos Presiden Jokowi saat berlaga di Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 dan Pilpres 2014. Menurut Koordinator Jasmev, Kartika Djoemadi, Jasmev sekarang ini sudah nonaktif.

Dikatakannya, Jasmev merupakan wadah relawan digital yang bertugas membantu Jokowi dalam perhelatan politik. Ketika perhelatan selesai, Jasmev otomatis dinonaktifkan. Kartika juga menegaskan, Jasmev adalah relawan Jokowi independen yang sama sekali tidak dibiayai Istana apalagi partai politik tertentu.

Namun, beberapa waktu ke depan, sepertinya para pasukan medsos Jokowi akan kembali bekerja ekstra keras menjelang Pilpres 2019, yang prediksinya akan memanaskan dunia net dan warganet.

Apalagi jika mendapati sejumlah bukti yang telah dikantongi polisi saat penangkapan sindikat Saracen produsen ujaran kebencian dan berita hoax di medsos. Sindikat Saracen dalam proses kerjanya melayani jasa kampanye di pilkada dengan bayaran tertentu. Pemesannya pun bisa dari siapa saja.

Terkait bakal ramainya “perang” di media sosial jelang pilpres 2019, Dimas Okky Nugroho, salah satu anggota staf Kantor Staf Kepresidenan, tidak membantahnya. “Dulu para relawan medsos Jokowi di Pilkada Jakarta (2012) dan Pilpres (2014) sangat hebat. Saat ini di pihak oposisi dan pihak yang tidak suka pada Presiden Jokowi sudah punya kemampuan yang sama,” tutur Dimas.

Bahkan melihat perang propaganda yang banyak bersileweran di sosmed saat ini bukan antara pendukung Jokowi dan lawannya (oposisi). “Bisa saja sebenarnya ada musuh dalam selimut atau pihak lain yang sengaja coba memperkeruh keadaan,” kata Dimas.

Dimas memberi contoh isu PKI yang selalu dikaitkan dengan Jokowi dan disebar di medsos. Padahal tokoh-tokoh politik yang ada di pihak oposisi, seperti Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa, sama sekali tidak pernah mengeluarkan pernyataan tentang itu.

Lebih lanjut Dimas mengatakan, secara keseluruhan bisa dikata sama sekali tidak ada gagasan yang ideal yang mau diperjuangkan dalam beragam kritik kepada pemerintahan Jokowi yang banyak beredar di sosmed saat ini. Hampir semuanya hanya berisi kebencian dan fitnah.

Untuk mengatasi atau mengurangi fitnah dan ujaran kebencian di sosial media dengan motif politik, Dimas berpendapat bahwa institusi demokrasi harus mulai diperkuat agar perdebatan jadi jelas dan cenderung tidak bias. Selain itu, penegakan hukum harus benar-benar dipatuhi dan dijalankan agar jadi efek jera bagi yang ingin coba-coba melanggarnya.

Hal yang sama juga diungkap peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Syamsuddin Haris. Menurutnya, kelompok penyebar isu SARA dengan ujaran kebencian, seperti Saracen harus ditindak tegas aparat kepolisian. Jika tidak, ancaman terjadinya konflik horizontal akan membayangi negara Indonesia.

"Ya, jangan dibiarkan kelompok-kelompok seperti ini. Polisi harus cepat menindak tegas pelaku, berikut pemesan ujaran kebencian itu." kata Syamsuddin.

Diketahui, Presiden Jokowi memiliki tim sosial media di Istana Negara, yang diurus langsung oleh Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Teten Masduki. Presiden selalu mengunggah berbagai pandangan dan pernyataan sikap tentang sebuah masalah melalui akun FB Presiden Joko Widodo. Tak hanya itu, Jokowi juga sering mengabarkan beragam kemajuan khususnya di pembangunan infrastruktur selama dirinya menjabat.

Beberapa waktu lalu, Jokowi bertemu para pegiat medsos di Istana Negara, Jakarta. Mengenai kelompok penebar ujaran kebencian seperti Saracen, Jokowi menilai organisasi seperti itu harus diberantas tuntas karena mengancam persatuan bangsa dengan potensi konflik horizontal.

“Presiden juga mengatakan, selain anggota dari jaringan Saracen, siapa penyewa jasa mereka, melalui siapa disewa, harus diusut dan diproses hukum sesuai UU yang berlaku,” kata penggiat medsos, Chico Hakim, yang turut dalam pertemuan tersebut.




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait