Nurdin Halid Undercover (2)
Tanggal Posting : Jumat, 25 Agustus 2017 | 20:52
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 718 Kali
Nurdin Halid Undercover (2)

SUKSESINDONESIA - Terlepas dari segala kontroversi mengenai dirinya, sebenarnya sejarah perjalanan hidup Nurdin Halid mengajarkan begitu banyak hal yang patut kita petik. Bisa jadi pelajaran terbesar terutama bagi kaum muda. Nurdin Halid contoh manusia sukses yang melewati proses panjang nan berliku. Memutuskan bagaimana merespons ketidakadilan, tidak membiarkan tantangan menghancurkannya. Berapa kali ia gagal dan bagaimana caranya untuk bisa bangkit lagi, hingga sebuah pelajaran indah bagi kita semua yakni Nurdin tidak pernah menyesali apapun. Dirinya belajarlah untuk hidup pada hari ini dengan cara yang bisa membuat orang disekitarnya bangga.

Nurdin bukan hanya sosok seorang pemimpin, melainkan juga salah satu ikon, inspirasi, dan guru kehidupan.

****

Di tulisan sebelumnya telah diceritakan, hidup Nurdin Halid seakan-akan memang ditakdirkan hanya untuk bertarung dan bertarung. Dari satu pertarungan ke pertarungan yang lain. Dari satu medan tarung ke medan tarung yang lain. Seperti di tahun 1979, Nurdin yang kala itu masih berstatus sebagai Mahasiswa IKIP Ujung Pandang (sekarang UNM Makassar) dan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ujung Pandang sangat terobsesi dengan AMPI (Angkatan Muda Pembaruan Indonesia).

Bagaimana tidak, AMPI yang didirikan pada tahun 1978 oleh sejumlah organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Partai Golkar terasa begitu penting dan sangat diperhitungkan pada era 1980-an hingga 1990-an. Saking strategisnya peran AMPI di era itu, jika seseorang hendak menjadi pengurus Golkar dianggap tidak PARIPURNA pengkaderan di Golkar jika tidak "di-AMPI-kan" terlebih dahulu. Tak heran jika kader-kader muda potensial dari ormas-ormas kepemudaan yang berafiliasi dengan Golkar berlomba jadi pengurus AMPI. Sebut saja, GEMA KOSGORO, GEMA MKGR, dan GEMA SOKSI.

nurdin-halid-kampanye-gubernur-sulawesi-selatan

Tak hanya itu, saat pemilihan legislatif masih menganut sistem proporsional tertutup (sistem nomor urut), seorang ketua AMPI hampir dipastikan mendapatkan nomor urut jadi. Kenyataannya, Ketua AMPI hanya bergulir diantara kader-kader yang memiliki hubungan khusus dengan tiga jalur, seperti ABRI, Birokrat elite Sulsel, dan Golkar sendiri. Inilah fenomena arah dan kebijakan yang banyak terjadi selama masa orde baru di partai Golkar.

Aturan tidak tertulis ini pun menjalar ke Sulsel. Bahkan, Golkar di Sulsel menambahkan poin baru yang disebut "Darah Biru Tiga Jalur Golkar". Kalo bukan siapa-siapa, juga tidak memiliki apa-apa, maka jangan pernah bermimpi menjadi apa-apa di AMPI apalagi di partai Golkar. Di masa itu, kepengurusan AMPI, bahkan KNPI diisi serta didominasi putra-putri purnawirawan, bupati, dan birokrat elite Sulsel. Fenomena ini menjadi tradisi mapan yang sangat sulit sekali didobrak.

nurdin-halid-didukung-luwu-jadi-gubernur-sulsel

Dan Nurdin yang hanya anak seorang guru di Apala, Bone yang tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa merasakan betul berada pada situasi dimana suasana kebatinannya benar-benar merasa ditampar dengan hegemoni itu. Tetapi, fakta tersebut memberi Nurdin kesadaran baru, bahwa penting memiliki apa-apa dan menjadi siapa-siapa.

Baca Juga: Nurdin Halid UnderCover (1)

Maka saat datang tawaran sebagai Manager Pusat Pelayanan Koperasi (PPK) Tipe B sekaligus Kepala Perwakilan PUSKUD Sulsel di Gowa, Nurdin pun langsung menerimanya. Dua tahun kemudian, tepatnya akhir 1985, Nurdin mendapat promosi sebagai Kepala Perwakilan PUSKUD Sulsel sekaligus manager PPK Tipe A di wilayah Ajattapareng. Bintang Nurdin pun sudah bersinar terang. Ia sama sekali sudah berbeda dari 10 tahun sebelumnya.

nurdin-halid-didukung-di-palopo-jadi-gubernur-sulsel

Di Musda DPD 1 AMPI Sulsel yang digelar tahun 1989, pertama kali Nurdin Halid ingin menunjukkan jika dirinya "bukan siapa-siapa yang tidak memiliki apa-apa". Ia memutuskan ikut bertarung memperebutkan posisi ketua, meski pada saat itu sejumlah kandidat ketua seperti Soesilo Harahap, Haerul Tallu Rahim, Syahrul Yasin Limpo adalah kader-kader muda Golkar yang berasal dari keluarga purnawirawan, birokrat elite Sulsel dan memiliki "darah biru". 

Walaupun kemudian kalah dari SYL di Musda yang pertama diikutinya dan hanya mendapatkan posisi sebagai wakil ketua, tetapi dengan keberanian Nurdin Halid mencalonkan diri sebagai ketua dari kalangan masyarakat biasa jadi titik awal kebangkitan kader-kader muda Golkar yang berasal dari kalangan biasa untuk mengikis habis hegemoni dan dominasi tradisi "tiga jalur Golkar" dalam tubuh AMPI Sulsel.

Hasrat yang terpendam untuk mendobrak hegemoni dan dominasi "Darah Biru" di tubuh AMPI dengan cara merebut kepemimpinan DPD 1 AMPI Sulsel membuat Nurdin makin percaya diri setelah ditunjuk sebagai pelaksana tugas Ketua DPD 1 AMPI Sulsel menggantikan SYL setahun kemudian (1990-red). Makin diperhitungkan, Nurdin kembali mencoba maju di Musda AMPI Sulsel yang digelar tahun 1994. Terbukti, Nurdin benar-benar berhasil merebut jabatan Ketua DPD 1 AMPI Sulsel sekaligus menggusur hegemoni dan dominasi yang mengakar di tubuh AMPI, sekaligus menghapus tradisi rekrutmen yang sudah mapan di dalam lingkup Golkar Sulsel hingga sekarang ini.

nurdin-halid-bersama-syahrul-yasin-limpo

Keberhasilan Nurdin sekaligus membuka ruang bagi kader-kader muda lain seperti Ajeip Padindang, Anas Genda (Alm), Arfandi Idris, dll yang notabene dari kalangan biasa-biasa saja berani tampil di pentas Golkar Sulsel. Tak cukup disitu, kader-kader muda Golkar seperti Ilham Arief Sirajuddin dan Agus Arifin Nu’Mang yang tergusur oleh klan Yasin Limpo di FKPPI ikut terbantu karena keberhasilan Nurdin.

Menariknya, penggalan sejarah antara Nurdin dan khususnya klan Yasin Limpo 27 tahun lalu terulang kembali. Akankah Nurdin kembali berhasil mengalahkan klan Yasin Limpo dan menggantikannya sebagai Gubernur Sulsel? Sebuah cerita sejarah yang bisa jadi terulang kembali. (Bersambung)




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait