Nurdin Halid Undercover (1)
Tanggal Posting : Rabu, 23 Agustus 2017 | 13:51
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 782 Kali
Nurdin Halid Undercover (1)

SUKSESINDONESIA - Sungguh tidak mudah bercerita tentang sosok fenomenal seperti Nurdin Halid. Sosok yang berkibar dengan melewati proses panjang nan berliku, dan kerap dicap sebagai sosok kontroversial. Setidaknya itu yang dicitrakan oleh banyak media mainstream yang terlanjur mencitrakan "tidak elok" tentang Nurdin Halid. Diluar sana, sangat banyak artikel bertebaran yang menghujat Nurdin dan bisa jadi beberapa pihak memang menginginkan kejatuhannya.

Di berbagai sumber yang tersedia dalam menelusuri rekam jejak Nurdin, nyaris seluruhnya menggambarkan sosok Nurdin dalam citra yang negatif. Anehnya, citra itu justru terjadi hampir bersamaan dengan makin melejitnya karir Nurdin di berbagai bidang. Pertanyaannya, betulkah Nurdin seburuk itu? Karena sepertinya citra negatif itu sudah terlanjur tertanam di benak sebagian masyarakat dan benar-benar berhasil dikonstruksikan oleh banyak media.

nurdin-halid-calon-gubernur-sulsel

Sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan hanya tahu jika Nurdin Halid adalah seseorang yang pernah terlibat berbagai kasus hukum. Tetapi sayangnya, sangat jarang masyarakat yang mau tahu benar bagaimana kasus-kasus hukum tersebut menimpa Nurdin.

Hampir satu dasawarsa, dari 1999 hingga 2008 memang menjadi tahun yang penuh haru biru bagi kehidupan Nurdin beserta keluarga besarnya. Bagaimana tidak, nyaris seluruh hidupnya hanya berurusan dengan masalah hukum. Tentang tuduhan Penyelewengan Dana Simpanan Wajib Khusus Petani (SWKP) petani cengkeh di Sulawesi Selatan, Nurdin dituntut bebas oleh JPU dalam proses peradilan di Pengadilan Negeri Makassar tahun 1999. Kemudian, Tuduhan penyalahgunaan dana Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang disalurkan ke Bulog, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta pada tahun 2005 memvonis bebas Nurdin karena menganggap dakwaan Jaksa lemah dan tidak dapat dibuktikan.

nurdin-halid-bersama-keluarga-jadi-gubernur-sulsel

Setelah itu, divonis 2,6 tahun penjara pada kasus impor beras Vietnam juga di tahun 2005. Masih di tahun yang sama Nurdin kembali divonis bebas pada kasus impor gula ilegal dari Thailand. Dan dengan cara luar biasa kembali menghuni hotel prodeo pada tahun 2007 setelah kasus KLBI yang sudah divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tahun 2005 kembali datang sehari setelah Nurdin dilantik sebagai Anggota DPR RI dari Partai Golkar melalui putusan Mahkamah Agung pada 13 September 2007.

Seperti bermain petak umpet, disitu bebas, disana lepas, tetapi disini ditangkap. Seperti itulah ilustrasi prahara hukum yang menimpa Nurdin Halid. Namun, satu hal yang pasti, dua kali tinggal didalam "hotel prodeo" seharusnya membuat karir politiknya selesai. Tetapi tidak. Semakin dalam Nurdin jatuh, semakin tinggi ia melenting. Inilah yang membuat Nurdin Halid menjadi sosok yang berbeda dan bukan karena proses karbitan yang dirancang orang lain. Bukan juga karena adanya sosok nama besar dibelakang namanya. Tetapi karena Nurdin merasa benar. Ia sosok yang memegang teguh prinsip yang dipesankan leluhurnya "Narekko Engkaki ri Tongeng e’, lebbi’ muimuwala polo, naiya ilara e’ (Jika engkau berada dalam kebenaran, jangan bergeser sedikit pun, walau engkau harus patah).

nurdin-halid-resmi-jadi-gubernur-sulsel

Sosok yang tanpa nama besar dengan predikat sebagai anak kampung ditambah lagi status mantan narapidana tentu bukan sebuah hal yang membanggakan. Apalagi terlepas dari persoalan Nurdin bersalah atau karena kasusnya direkayasa, Nurdin merupakan sedikit Tokoh Sulsel yang mampu bangkit kembali setelah jatuh terpuruk. Sebut saja Hamka Yandhu, Hadi Djamal, Andi Alifian Mallarangeng, dan Taufan Tiro yang pernah hidup dalam penjara, jangankan bangkit, nama keempatnya pun tak pernah lagi disebut di pentas politik nasional. Mereka seolah tenggelam, hilang ditelan bumi.

Nurdin menjadi seperti sekarang ini karena ia memang memiliki nyali besar untuk berada dan hidup ditengah-tengah pusaran politik yang sarat dengan konflik kepentingan, dan sewaktu-waktu bisa menjadikan dirinya sebagai tumbal. Tetapi bagi Nurdin, dalam hidup ini, resiko adalah sebuah keniscayaan. Ia benar-benar mengalami jatuh bangun, jatuh dan bangun lagi. Ia yang selalu bangun dan berdiri tegak setiap kali jatuh dalam menjalani hidupnya, Itulah petarung sejati.

Nurdin lelaki Bugis-Makassar, terlahir untuk "dikutuk" menjadi Petarung. (Bersambung)




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait