Menjadi Janda Sudah Dimusuhi Masyarakat, Apalagi Janda Yang Memiliki Anak
Tanggal Posting : Jumat, 21 Oktober 2016 | 10:51
Oleh : Anty Putry Bungsu - Dibaca : 497 Kali
Menjadi Janda Sudah Dimusuhi Masyarakat, Apalagi Janda Yang Memiliki Anak
Catatan Hati Seorang Janda

Apa yang anda pikirkan jika aku menyebut kata JANDA! Kesendirian, kesepian, kesalahan, atau sebuah kekuatan?

Hal ini pernah aku bahas dengan seorang teman yang mengalami konflik dalam masalah rumah tangganya.

“Apa aku harus cerai Raa”

“Kalau itu memang jalan terbaik ya nggak masalah”

“Aku jadi Janda dong”

“Memangnya masalah kalo jadi Janda. Kamu ndak punya masa depan? Selama ini aku tahu kalau kamu cari uang sendiri. Suamimu juga jarang ngasih kamu nafkah lahir dan batin. Orang nikah itu cari bahagia. Aku rasa kamu sudah cukup Hebat bisa bertahan sekian lama.”

“Tapi masalahnya janda itu lo Raa. Usiaku baru usia 25 tahun lebih sedikit. Bagaimana kata orang”

“Bodoh amat! Ingat! Kamu adalah produk dari seorang Janda”

Dan kami pun terdiam dengan pikiran-pikiran kami masing-masing sambil menikmati segelas kopi. Hingga terbersit sebuah pertanyaan di otakku, “Apa salah jika perempuan memilih menjadi janda?

1993. Ayah Mitha meninggal. Ibunya masih berusia sangat muda dengan dua anak. Waktu itu Mitha masih belum mengerti arti Janda. Yang dia tahu, setelah ayah meninggal, ibunya langsung berubah mejadi pendiam. Dia tidak lagi datang ke acara arisan. Dia hanya aktif di pengajian hingga ia mengubah penampilannya dengan menggunakan jilbab. Ibunya terlihat sangat cantik dengan jilbab dan baju panjangnya. Terkadang juga meminta mitha untuk menemaninya tidur di kamar pribadinya. Mitha pun melonjak senang. Karena tiap malam dia bisa sembunyi di bawah ketiak Ibunya dan membiarkan ibu mengelus rambut panjangnya. Bahkan yang membuat dia senang adalah ibunya selalu tersenyum sambil terus memeluknya dan mengelus rambutnya.

Yah…waktu itu Mitha adalah seorang gadis kecil yang suka mendengarkan perbincangan orang tua termasuk mendengar perbincangan ibu dan seorang kawannya.

“Kamu nggak pingin nikah lagi. Kamu masih muda. Emang nggak kesepian?"

“Nggk lah. Hidupku sudah sempurna dengan anak-anakku. Lagian nggk ada yang salah kan dengan statusku sebagai Janda. Aku tetep ingin menjadi Janda terhormat. Nggk bisa bayangkan kalau seandainya aku menikah lagi. Aku nggak mau sakit hati lagi, aku nggak mau menjanda tuk kedua, ketiga, dan seterusnya. Ayah anakku satu tidak ada ayah tiri dan tidak ada saudara tiri.”

Ya… Ibunya Mitha adalah seorang Janda yang sangat terhormat. Sebagai single parent dia bisa survive hidup di lingkungan masyarakat yang masih menganggap seorang janda adalah kaum yang kedua. Dia bisa menjadi seorang ayah, seorang ibu bahkan bisa menjadi seorang kawan bagi anak-anaknya. Saat Mitha telah menjadi perempuan dewasa, dia dan ibunya pernah berbincang.

“Bu….kenapa dulu ibu nggak menikah lagi”

“Ibu nggk mau kamu punya ayah tiri”

“Emang ibu nggak tersiksa menjadi seorang janda”

“Sangat tersiksa cantikkkk…….”, beliau tertawa dan menarik hidungku, “Ibu juga perempuan biasa. Tapi ibu yakin bahwa keputusan ibu menjadi janda bukanlah sebuah keputusan yang salah. Ibu sangat bisa menikah lagi tapi tidak ibu lakukan karena ibu bahagia memiliki kamu dan kakakmu. Lagian kalau ibu menikah lagi, ibu yakin mereka lebih tertarik dengan kalung yang kamu pakai”. Dan kami tertawa terbahak-bahak bersama.

Dengan berjalannya waktu. Dalam kesendiriannya. Dalam kesepiannya, Mitha sangat bisa merasakan hari-hari panjang yang dilalui ibunya hampir 25 tahun lebih hidup dalam kesendiriannya sebagi seorang janda. Aku pun bisa merasakannya walaupun aku tidak mengalami kejadian seperti Mitha!

Kembali pada masalah seorang teman yang ragu memutuskan menjadi janda. Berbeda kasus dengan ibunya seorang janda karena sebuah kematian.

Entah bagaimana aku harus memulainya. Siapa yang tidak ragu jika harus mengungkapkan jati dirinya bahwa ia adalah seorang janda. Seperti membuka aib?. Padahal apa yang salah dari seorang janda? Bukankah itu menunjukkan kalau perempuan yang menjadi janda adalah perempuan yang kuat? Perempuan yang survive? Karena berani memutuskan hidup sendiri tanpa tergantung dari laki-laki. Janda menafkahi diri sendiri bahkan juga beban dengan menanggung anak-anak mereka.

Jadi siapa yang harus dicemooh? Janda-janda yang mampu berdiri sendiri? Atau suami-suami yang tidak bertanggung jawab hingga akhirnya menceraikan mereka?

Bukan perkara mudah menghapus stigma yang terlanjur melekat di masyarakat. Aku sempat berpikir apakah stigma itu diciptakan oleh laki-laki. Melekatkan cap negatif ke dahi para perempuan yang mereka tinggalkan. Supaya para duda mendapat pemakluman dan dengan mudah mencari perempuan-perempuan lebih muda, bahkan masih perawan untuk menjadi istri mereka. Karena janda adalah barang bekas yang tidak layak dibeli lagi. Pikiran yang bodoh!

Keadaan ini pula yang membuat para perempuan memilih tersiksa bertahan menjadi istri dalam suatu perkawinan yang seperti neraka, dari pada bercerai dan mendapatkan julukan JANDA!

Bisa kamu bayangkan seandainya salah satu temanku yang statusnya telah menjadi janda berkata, “Aku bangga menjadi janda! Saya bangga membesarkan putri saya dengan keringat saya sendiri”

Bisa di bayangkan bagaimana reaksi orang yang mendengarkannya? Cibiran dari masyarakat membuat para Janda menjadi takut untuk mengakui statusnya, dan yang lebih parah adalah beberapa dari mereka menelantarkan anak mereka, menitipkan pada saudara, bahkan meninggalkan anak-anak mereka pada panti asuhan. Atau yang lebih parah membunuh mereka. 

Menjadi janda sudah dimusuhi masyarakat, apalagi janda yang memiliki anak. Jangan salahkan mereka. Stigma masyarakat yang menganggap mereka kaum marginal membuat mereka tertekan dan berbuat nekat.

Perempuan memusuhi kaumnya sendiri. Sering terjadi, jika kita memiliki tetangga baru dan statusnya adalah seorang janda bagiaman reaksi para perempuan disana? Hahahahahahaha…… jangan memberikan sebuah pembelaan.

Padahal seharusnya para janda itu mendapatkan bintang tanda jasa atas ketegaran dan ketangguhan mereka. Oh Tuhan……Lets make it simple and easy.

Saat menulis ini tiba-tiba ada pesan masuk di WA-ku

“Raa….menurutmu jika aku menikahi temanmu setelah ia bercerai apakah salah”

Aku diam tidak bisa menjawabnya sampai beberapa kali ia mengirim pesan yang sama.

“Walaupun dia janda aku masih bisa menerima”

Kalau seandainya temanku mempunyai anak apakah ia bisa menerima. Akhirnya diskusi panjang lebar dimulai detik ini. Menggali pikiran seorang laki-laki yang ternyata masih bisa menerima status janda. Lalu bagi mereka yang menganggap janda adalah kaum marginal?

“Mengapa perempuan sering menjadi pihak yang dirugikan?”

“Di mata laki-laki janda itu barang bekas…tidak ada yang mau menikahi janda”

“Janda tidak layak dinikahi karena dianggap tidak sederajat”

“Perempuan bercerai dianggap tidak becus, dan dianggap gagal sebagai seorang istri”

“Kalau laki-laki lajang ingin menikahi janda, sudah pasti akan ada kontroversi di dalam keluarga mereka”

“Belum lagi masyarakat mencibir yang menganggap si janda-lah yang menggoda”

Aku benci dengan pemikiran-pemikiran gila itu. I Hate!!!!

“Beda dengan laki-laki yang berstatus duda”

“Masyarakat lebih mengasihi mereka. Dianggap korban karena telah dikhianati dan ditelantarkan istri”

“Coba jika janda yang membawa anak, statusnya akan lebih memalukan lagi”

“Sebaliknya kalau duda yang membawa anak malah dipuji-puji. Dianggap sebagai laki-laki bertanggungjawab, yang memikul nasib anaknya. Bahkan disebut sebagai lelaki yang berkualitas karena dianggap memiliki hati dan normal”

“Pria lajang menikahi janda dianggap sebagi aib”

“Tapi duda dengan mudah dapat menikahi perempuan lajang manapun”

“Kita harus tunjukkan bahwa janda adalah janda-janda yang terhormat”

“Perempuan seharusnya bangga dengan keputusannya menjadi janda”

“Kita harus tunjukkan bahwa janda bisa menghidupi dirinya sendiri”

“Kita harus bisa eksis tanpa laki-laki. Kita harus bisa membuat keputusan-keputusan sendiri untuk mengatasi masalah hidup sendiri”

Sebuah perbincangan yang membuat adrenalinku memuncak pada sebuah ketidak adilan pada perempuan yang memilih keputusan menjadi seorang janda. Lalu apa yang aku harus lakukan. Bicara satu persatu pada semua orang dan berkata, “Please…..jangan berpikir negatif tentang janda”.

Ah….sudahlah! aku yakin catatan putihku tentang janda ini akan menimbulkan banyak pikiran yang kontroversi. Yang pasti kita harus belajar menghargai keputusan orang lain memilih melajang, menikah atau pun menjanda.

Fuich…..menulis catatan ini seperti berlari dalam sebuah putaran masa lalu dan masa depan. Untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat. Tanpa ada sebuah penyesalan.

Jadi ingat sebuah nasehat dari kawan, “Hidup adalah pilihan ... jadi Yakinkan hati atas pilihan ... satu pilihan yang harus dikorbankan ...”

Ya…apapun keputusannya ada sebuah konsekwensinya termasuk keputusan untuk menjadi janda.

Buat seorang teman yang sedang bimbang, “Kita adalah perempuan. Kita punya kelemahan. Tapi kelemahan kita sebenarnya adalah sebuah kekuatan. Keep Survive Sistr!. Aku percaya kamu pasti bisa. Tak ada yang salah jika kamu memutuskan untuk menjadi janda!”

Janda…… Seorang Janda terhormat yang menjadikan Aku menjadi Aku yang sangat Aku.

Penulis adalah Seorang Janda Yang Berusaha Mengungkapkan isi hatinya lewat sebuah cerita fiksi




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait