MENGENANG HOMPIMPAH, UNYIL KUCING
Tanggal Posting : Sabtu, 31 Oktober 2015 | 16:42
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 444 Kali
MENGENANG HOMPIMPAH, UNYIL KUCING
NOSTALGIA FILM SI BONEKA UNYIL

SUKSESINDONESIA.COM - Minggu pagi, pukul setengah sepuluh WITA, tak boleh ada kegiatan lain. Unyil segera beraksi di layar teve dan semua kegiatan harus berhenti. Pada waktu itu, anda pasti telah mandi, rapi berpakaian, duduk bersila di depan TV. Televisi saat itu didominasi hitam putih berkotak kayu dan bertiang, dengan pintu geser berkunci. Sebelum hilang entah ke mana, kunci jadi sarana ampuh orang tua untuk mengendalikan nafsu menonton tv anak yang kadang-kadang kelewatan. Lewat pukul sepuluh malam tv dikunci, dan anak-anaknya tak bisa berbuat apa-apa selain berangkat tidur sembari merutuk. Ke rumah tetangga? Tak mungkin, sebab setelah jam sepuluh malam, semua harus berada di rumah...

Kembali ke Unyil. Inilah legenda 80-an sejati khas Indonesia. Jika boleh berkesimpulan, Unyil-lah sebenar-benarnya maskot era 80-an ala Indonesia. Mungkin semua anak Indonesia di era 80-an, tentu ingat masih ingat bagaimana riangnya hati saat pembaca susunan acara di awal program mengumandangkan "pada pukul sekian, Adik-adik dapat menyaksikan Panggung Boneka Si Unyil". Di Era 80-an, di hari Minggu, Si Unyil berentetan dengan Ria Jenaka, Album Minggu Ini (belakangan berubah menjadi Album Minggu Kita), lalu ditutup dengan Little House On The Prairie. Sebagai anak yang besar di pelosok Sulawesi Selatan, hanya Unyil dan Album Minggu yang menjadi tontonan favorit saya, sebab Ria Jenaka terlalu njawani (bagi saya, barisan punakawan berdandan aneh tak terlalu menarik), dan Little House terlalu membingungkan (sebab ia berbahasa Inggris dengan subtitle yang selalu cepat hilang sebelum sempat terbaca oleh saya yang masih duduk di SD). Namun kelak, saat saya mulai beranjak cerdas (ehm!), Little House On The Prairie menjadi idola saya dan saya mulai bisa mengerti kelucuan Ria Jenaka….

Desa Ideal versi Orde Baru

Panggung Boneka Si Unyil berlatar sebuah desa antah berantah bernama Suka Maju. Hijau dan penuh dengan pepohonan (bahkan punya hutan lindung!), desa Suka Maju adalah sebuah proyek desa ideal, desa percontohan pemerintah sebagai sponsor utama si Unyil.

Si Unyil

Dikepalai oleh Pak Lurah (berkacamata, kumis tipis, dengan dagu runcing seruncing-runcingnya), desa Suka Maju juga menunjukkan wawasan bhinneka tunggal ika. Ada Pak Raden yang Jawa feodal, Bu Bariah yang Maduro-Suroboyo, Bang Togar dari Medan, Meilani dan keluarganya yang Tionghoa. Sedemikian lengkapnya desa Suka Maju, bahkan banci pengamen dan orang gila pun turut diusung masuk!

Si Unyil memang dimaksudkan sebagai program pendidikan (sekaligus hiburan) bagi anak-anak agar kelak menjadi warga negara yang baik. Di episode-episode awal, Si Unyil tampil membosankan sebab karakter yang ada masihlah lurus bersih. Barulah episode-episode selanjutnya tokoh Pak Raden (bernama lengkap Raden Mas Singomenggolo Jalmowono) yang pelit-feodal-temperamental, Pak Ogah, Pak Ableh, (keduanya pengangguran sekaligus pemalas tak ketulungan) dihadirkan. Lalu berentetan karakter Penjahat (pelaku kriminal sejati, botak dan menyeramkan, dengan alis menyatu melengkung keatas), Bibi Cerewet, Bu Bariah, Engkong, dan beberapa karakter numpang lewat (semisal Joni alias Jontor, keponakan Bibi cerewet dari Jakarta, yang selalu hadir berkacamata hitam dengan walkman di telinga...). 

Di bagian anak-anak yang menjadi fokus serial ini, selain Unyil sebagai tokoh utama, berbagai karakter kuat juga turut hadir. Ada Ucrit, Usrok yang penakut tapi jika berkelahi tak pernah mundur. Keduanya berada dalam geng yang sama dengan Unyil. Di geng lain, geng yang kerap berantem dengan geng Unyil, ada Endut, Cuplis, Pesek (alias Kendar). Di bagian anak perempuan, trio Menik-Siti-Meylani menjadi pelengkap. Di beberapa episode sempat muncul Tini, keponakan Pak Raden, yang kerap menjadi korban feodalisme si Paman.Si Paman alias Pak Raden bersikeras memanggil Tini dengan Tinneke (nama yang berbau Belanda), sementara yang bersangkutan lebih senang dengan Tini.

Misi, Jargon dan Hit

Sebagai produk negara (Unyil diproduksi oleh PPFN – Pusat Produksi Film Negara) di jaman Orde Baru, Si Unyil tak lepas dari berbagai misi. Sedemikian kuatnya misi pemerintah bahkan beberapa episode memilih program pemerintah sebagai judul. ABRI Masuk Desa, Operasi Bersih, Buta Aksara, Hardiknas, Cinta Lingkungan, Buta Senja adalah segelintir dari program pemerintah yang diseret masuk ke dalam serial si Unyil dan menjadi judul episode. Dan karenanya pula, beragam jargon seumpama Aku Anak Sehat, Gotong Royong, Kerja Bakti, Toleransi dan Tenggang Rasa, menjadi jargon yang kerap berlalu lalang dalam percakapan. Apa boleh buat. Inilah produk Orde Baru.

Meski terlalu kerap bertabur misi, pada banyak episode Unyil tetap tampil cemerlang, menggelitik, membumi, kaya karakter yang akhirnya menjadi hit nasional. Beragam istilah semisal hayyaaa (Engkong), ceppek dulu dong, hajar Bleh! (Pak Ogah), jak rujak (Bu Bariah), memble (Pak Ableh), ngantor di poskamling, proyek (Pak Ableh dan Pak Ogah), Air kendi (Pak Raden, suguhan untuk anak-anak yang bertamu ke rumah Pak Raden mengingat Pak Raden terlampau pelit), encok kumat (Pak Raden, jurus menghindar kerja bakti), di mmannaa annakkuuh…di mmaannaa istrikuuh (Orang gila).

Film Si Unyil

Terkhusus untuk Pak Ogah, Pak Raden dan Bu Bariah, bahkan mereka lantas hidup dalam wujud manusia, merajalela di acara Panggung Hiburan Anak-Anak, dan akhirnya menjadi tokoh penghibur sekaligus pelawak. Sementara Unyil sendiri tak mampu meraih sukses yang sama dengan kompatriot-kompatriotnya...

Dalam kehidupan sehari-hari, Unyil demikian mendarah daging di masa kecil kita semua. Beberapa kawan masa kecil saya harus rela dinisbatkan dengan nama tokoh dalam si Unyil. Mereka yang botak harus pasrah dipanggil Cuplis, yang cengeng digelar Kinoi (sepupu Unyil), dan orang dewasa yang berkumis lebat diberi julukan Pak Raden, dan perempuan yang ekstra bawel diberi judul Bibi Cerewet. 

Unyil pun kerap tampil musikal. Jika masih ingat, Unyil dan kawan-kawan punya band bernama Band Dekil (bayangkan, sebuah desa dengan band lengkap untuk anak-anak SD!). Setiap perayaan (17 agustus atau Sumpah Pemuda), band Dekil kerap tampil di hadapan Pak Lurah, Ibu guru, dan petinggi-petinggi desa lainnya. Lagu hit Aku Anak Sehat bahkan sukses akibat dukungan Unyil dan kawan-kawan.

Dongeng dan Agama

Namun Unyil tak cuma berkisah tentang kehidupan ‘ril’ di desa Suka Maju yang terkadang demikian sesak dimuati jargon dan pesan pemerintah. Pada beberapa episode yang menjadi favorit saya, panggung boneka Unyil mendadak berubah menjadi latar kisah-kisah dongeng yang akrab dengan anak-anak. Tercatat dongeng Atu Belah, Ayu Berubah Rupa, Timun Mas, Uti dan Raksasa, dan sebagainya. Inilah episode-episode favorit saya, episode di mana karakter baru (boneka baru) dimunculkan, dan kisah si Unyil tak cuma berlangsung dari sekolah, rumah dan pos kamling.

Unyil tempo dulu

Saat hari raya, Unyil pun mengusung kisah-kisah agama dalam bentuk dongeng. Kisah hijrah Nabi Muhammad sempat terekam dalam episode berjudul Hijrah. Juga saat natal, dalam salah satu kisah alkitab, kota Betlehem berusaha dihadirkan dalam bentuk panggung boneka lengkap dengan lelaki semit berkafiyeh dan berkendarakan onta.

Perihal warna-warni umat beragama juga sangat menonjol dalam serial boneka si Unyil ini. Unyil yang muslim tak ragu mengucapkan selamat natal pada Ucrit yang katolik dan Meylani yang protestan. Begitu pula sebaliknya, bagaimana Meylani dan Ucrit turut berpatisipasi mengingatkan kewajiban puasa bagi karakter yang kebetulan muslim bila kebetulan bulan ramadan tiba. Setiap momen keagamaan (ramadhan, idul fitri dan idul adha, natal), tak ketinggalan Unyil akan mengusung tema yang serupa, dengan harmoni toleransi dan tenggang rasa yang kental. Sesuatu yang mungkin harus kembali kita tengok, di tengah maraknya kesewenang-wenangan dan egoisme umat beragama.....

(Ditutup dengan ucapan : Sampai di sini dulu teman-teman… Merdeka!)




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait