IN MEMORIAM PAK RADEN, SEBARIS TENTANG UNYIL
Tanggal Posting : Sabtu, 31 Oktober 2015 | 16:51
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 353 Kali
IN MEMORIAM PAK RADEN, SEBARIS TENTANG UNYIL
Film Si Unyil, Trivias about Unyil

Trivias About Unyil

Mengudara pertama kali pada tanggal 5 April 1981, dengan total episode 603, Si Unyil hadir layar televisi dalam kurun waktu 12 tahun (1981 – 1993). Predikat sebagai maskot lapan-puluhan layak disandang oleh tokoh boneka berkopiah dan berpipi gembil ini.

Segenap pendukung si Unyil dimunculkan dalam opening title. Perkara opening title ini menjadi permainan tersendiri bagi saya dan saudara-saudara saya. Berebutan kami berusaha menebak nama siapa yang bakal muncul selanjutnya. Yang masih teringat adalah Drs. Suyadi, G. Dwipayana, Kurnain Suhardiman, dan Agust Suprapto.

Film PPFN untuk konsumsi anak-anak lainnya adalah Si Huma dengan tokoh Huma dan Windy yang bergigi kelinci dan bergerak secepat angin.

Ekpresi boneka tokoh-tokoh dalam Unyil umumnya sederhana. Seingat saya hanya ada lima ekspresi yang berarti lima wajah boneka : normal, marah (dengan alis nyaris menyatu), menangis, tertawa, dan ekspresi pasca berkelahi (rambut awut-awutan dengan lingkaran biru pada salah satu mata...)

Bapak dan Ibu Si Unyil adalah tipikal orang tua Jawa. Kesenangan Pak Unyil adalah memelihara perkutut (yang kicauannya sampai sekarang masih saya ingat), sementara Bu Unyil senantiasa tampil selalu bersibak-sibuk dengan nyiru (tampi).

Si Unyil tentu saja tak beranjak tua dan tak pernah naik kelas, dibuktikan dengan seragam merah hati yang tak pernah berganti. Tokoh tua dalam si Unyil diwakili oleh Nenek Ijah dan Mbak Bejo. Pak Raden, meski termasuk tua, selalu menolak dikategorikan sebagai manula, dengan pengecualian saat undangan kerja bakti tiba!

Oleh karena SI Unyil dianggap terlalu male oriented, belakangan TVRI dan PPFN memunculkan serial boneka si Upik dengan tokoh Upik yang perempuan sebagai fokus cerita. Mengudara hanya beberapa episode, Upik sempat menghentak kanak-kanak, sebab digambarkan tokoh boneka Upik yang nota bene perempuan dihadirkan sebagai jagoan, mahir memanah, dan bagai Tarzan(ita), cekatan berayun-ayun di pepohonan!

Keluarga Cuplis menjadi bulan-bulanan pemerintah saat program KB digaungkan. Cuplis digambarkan tak pernah bahagia oleh kewajiban menjaga adik (yang jumlahnya lima kalau tak salah, kesemuanya botak pula....). Nama adik-adik Cuplis antara lain : ciner, caplin, cimot dan dua lagi yang tak mampu saya ingat.... (yang termuda masih dalam gendongan, jadi mungkin belum bernama).

Salah satu episode tak terlupakan, adalah saat Nenek Ijah yang lansia harus beradu tenaga dengan penjahat yang hendak menyatroni rumah Nenek Ijah. Nenek Ijah sekuat tenaga berusaha menutup pintu yang hendak didobrak paksa oleh si Penjahat. Menegangkan sekaligus membuat haru.....

Tentang si Joni alias si Jontor yang selalu dibangga-banggakan oleh si Bibi Cerewet. Saat demam breakdance melanda, Konon di kota (Jakarta) Joni alias si Jontor adalah juara lomba breakdance. Tepatnya juara ke lima dari lima peserta....

Pada tahun 2001, bersama dengan Helmy Yahya, PPFN berusaha mengangkat kembali cerita boneka si Unyil ini ke layar kaca di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Si Unyil dipermodern, sarung dan peci ditinggalkan, tinggal di rumah model masa kini, dan ibunya tidak lagi memegang tampi kemana-mana karena sekarang sibuk berbisnis MLM. Sayang, usaha ini hanya menjadi suatu acara nostalgia bagi yang pernah mengalami kejayaan si Unyil. Dan bagi anak2 masa sekarang, cerita boneka si Unyil ternyata tidak mampu menarik perhatian mereka. Kalah dengan kartun2 impor dari jepang yang lebih ekspresif. :( Dan PPFN pun gagal dalam usahanya untuk bangkit kembali dari kebangkrutan.

SEMOGA KEDEPANNYA, AKAN ADA FILM YANG BERKUALITAS BUAT ANAK INDONESIA. SUKSES BUAT INDUSTRI PERFILMAN ANAK INDONESIA




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait