Cerita Tentang Media Cetak Versus Media Online
Tanggal Posting : Minggu, 10 Desember 2017 | 08:14
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 74 Kali
Cerita Tentang Media Cetak Versus Media Online

SUKSESINDONESIA - Saat CEO dan pendiri Amazon, Jeff Bezos memutuskan untuk membeli surat kabar Washington Post tahun 2013 kemarin, sebenarnya saya yang waktu itu sudah bekerja di media mungkin berpikir sama dengan pebisnis media lainnya, MERASA PENASARAN??? Si Bezos dengan kekayaannya, visinya, plus insting bisnisnya bagaimana caranya bisa membawa angin segar kepada industri media cetak alias surat kabar yang terus menerus mendapat ’Jab’ dari media digital.

Apalagi waktu itu, ada teman yang kebetulan lagi ke kota New York, Amerika. Disana dia hanya menemukan satu kios yang menjual koran. Itu pun isinya sangat kurang, dalam artian pilihan media cetak yang dijual sangat sedikit. Ya, di negeri Uncle Sam itu sejak tahun 2009 sudah ada ratusan penerbit tutup berjamaah, dan sebagian besar dari mereka beralih sepenuhnya ke media digital.

Dan Washington Post saat itu menjadi media yang sangat beruntung karena dibeli si Bezos saat sedang ’berdarah-darah’. Apalagi nilai pembeliannya mencapai USD250 juta atau sekitar Rp. 3 triliun lebih dengan kurs rupiah saat itu.

Kemudian, apa strategi si Bezos untuk bisnis media Washington Post? Ternyata yang menjadi fokus pertama si Bezos adalah memperbaiki sektor IT. Kepada CIO Shailesh Prakash waktu itu, si Bezos mengatakan, “kamu jangan takut eksperimen, berpikirlah untuk jangka panjang. Jangan keluhkan bisnis model media cetak atau koran hancur karena digital. Karena sebenarnya, perkembangan teknologi bisa memunculkan bisnis model baru,”.

Dalam perjalanannya, departemen IT di Washington Post akhirnya menjadi sama pentingnya dengan departemen redaksi. Bahkan, selama di pegang si botak Bezos, Washington Post yang dulunya hanya punya beberapa staff IT, akhirnya merekrut banyak ahli IT yang kemudian ditarget untuk mampu mengembangkan software sendiri.

Beberapa tahun kemudian hingga sekarang ini, pelanggan online Washington Post terus bertambah, trafiknya naik, dan secara otomatis pendapatan iklan digitalnya meroket hingga tumbuh 4 digit. Semuanya itu tidak lepas dari suksesnya ramuan software yang tim IT Washington Post yang dikembangkan sendiri dibawah pengawasan Bezos. Hingga kemudian, formula itu dijual ke 22 penerbit lain di Amerika, seperti Los Angeles Times, The Globe and Mail Toronto dan Chicago Tribune. 

Yang semula jualan koran, Washington Post kini mempunyai bisnis sampingan yaitu jualan software melalui divisi baru yang dinamakan ’Arc Publishing’.

Ironisnya, dari semua cerita sukses Washington Post di tangan Jeff Bezos, oplah cetak Washington Post justru terus dan terus menurun, hehehehe.

Tapi saya sampai sekarang masih sepakat dengan Bos Jawa Pos Grup, Bapak Dahlan Iskan bahwa media cetak atak koran tidak akan mati, tapi berkurang. Jadi kedepannya, bisa jadi hybrid, setengah cetak setengah online. Atau malah jadi peluang, karena pemain sudah sedikit dan segmentasi jelas, peluang di bisnis media cetak tetap ada. 

Misalnya, akan ada orang yang bosan jika lihat layar melulu, bisa jadi karena terlalu lama screen time, akhirnya merasa lebih nyaman jika membaca di kertas. Artinya, koran dan media cetak lainnya misalnya majalah, tabloid, dll tetap punya valuenya sendiri.

Nah, menurut kamu bagaimana? Masih suka membaca koran atau lebih cenderung menambah screen time?




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait