CEK SLIP GAJI ANDA, JIKA KURANG DARI UMK, LAPORKAN
Tanggal Posting : Kamis, 22 Oktober 2015 | 10:45
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 1116 Kali
CEK SLIP GAJI ANDA, JIKA KURANG DARI UMK, LAPORKAN
ilustrasi; UMP

SUKSESINDONESIA.COM - Sore itu sebelum pulang Wawan menerima struk gaji dari kepala regunya. Ketika jam pulang berbunyi bergegas ia mengambil motor dan menuju ke ATM langganannya.  Sejenak dia terpaku ketika membaca saldo di rekeningnya. “Kok  saldoku Cuma segini, jangan-jangan rekeningku dibobol orang” begitu pikirnya dalam hati. “Tapi mana ada orang membobol rekening orang miskin seperti aku?” ditepisnya sendiri perasaan itu.  Segera dia memacu motornya menuju rumah kontrakannya.  Betapa terkejut dan kecewanya dia ketika membaca struk gaji yang dari tadi disimpan di saku bajunya, ternyata gajinya belum naik. Padahal diluar sana harga-harga sudah lebih dulu melambung tinggi. Alih-alih kesejahteraan yang diidam-idamkan akan terwujud, gajinya kini malah tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga yang kian membengkak.

Ya, memang waktunya kenaikan gaji sesuai UMK baru yang berlaku mulai 1 Januari 2015. Setiap perusahaan diwajibkan memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam undang-undang. Pengingkaran terhadap hal itu merupakan pelanggaran undang-undang yang mempuyai implikasi hukum bagi perusahaan yang bersangkutan. Pemerintah sebagai penyelenggara Negara telah menetapak UMK setiap tahun untuk melindungi kaum buruh agar memperoleh kehidupan yang layak.

Apakah UMK itu?

UMK adalah singkatan dari Upah Minimum Kabupaten/Kota yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan kebutuhan hidup layak dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Upah minimum tersebut  ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota. Tujuan diaturnya upah minimum ini tidak lain adalah untuk melindungi buruh agar pengusaha tidak seenaknya membayar upah kepada pekerja.

upah-minimum-provinsi

Sanksi Bagi Perusahaan yang melanggar

Pasal 90 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum. Disini jelas sekali bahwa membayar upah sesuai ketentuan UMK hukumnya adalah wajib. Bagaimana jika perusaan merasa tidak mampu membayar sesuai UMK?  Dalam ayat (2) disebutkan “Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 dapat dilakukan penangguhan. Tata cara penangguhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri.

Ini Dia Sanksinya ?

Bagi perusaan yang membayar upah lebih rendah dari ketentuan UMK bisa dikenakan sanksi pidana atau denda. Sanksi bagi Pengusaha yang melanggar ketentuan UMK tersebut diatur dalam Pasal 185 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003. “Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 68, Pasal 69 ayat (2), Pasal 80, Pasal 82, Pasal 90 ayat (1), Pasal 143, dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah)”. Dalam ayat (2) pasal yang sama disebutkan ” Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana Kejahatan”

Bagi perusahaan yang mengajukan permohonan penangguhan UMK tidak secara langsung dikabulkan. Kepada perusahaan yang bersangkutan akan dilakukan audit keuangan oleh akuntan publik. Jika ternyata perusahaan tersebut berbohong, bahwa perusahaannya ternyata sehat maka pengusaha terancam dengan hukuman pidana atau denda karena telah melanggar undang-undang.

Contoh Kasus Pelanggaran UMK.

Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 1 tahun dan denda Rp 100 juta kepada Tjioe Christina Chandra, pengusaha asal Surabaya yang membayar karyawannya di bawah upah minimum regional. Sanksi pidana kepada pengusaha itu yang pertama di Indonesia.

Vonis kasasi itu dipimpin ketua majelis hakim Zaharuddin Utama, dengan anggota majelis Prof Dr Surya Jaya dan Prof Dr Gayus Lumbuun dalam perkara Nomor 687 K/Pid.Sus/2012. Menurut anggota majelis hakim, Gayus Lumbuun, di Jakarta, Rabu (24/4/2013), hukuman pidana itu diberikan atas dasar pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 13/2003 tentang ketenagakerjaan, yakni Pasal 90 Ayat (1) dan Pasal 185 Ayat (1). 

Gayus menekankan, pengabaian terhadap ketentuan UMR merupakan tindak kejahatan. Di tengah kondisi negara yang diwarnai banyak pengangguran dan rakyat berkekurangan untuk mendapatkan pencarian, banyak penyalahgunaan keadaan. Dalam perkara tersebut, penyalahgunaan dilakukan oleh pengusaha.

Hukuman minimal yang diberikan itu merupakan tahap awal sebagai pembelajaran masyarakat. Ke depan, pengusaha yang melakukan kejahatan serupa dan dilaporkan, akan dikenakan sanksi.

”Kami berharap putusan ini memberikan efek jera agar pengusaha tidak menyalahgunakan keadaan dan menaati aturan upah minimum. MA masih bisa diharapkan sebagai benteng terakhir untuk memperjuangkan hak buruh,” ujarnya.

Apa yang harus saya lakukan?

Itulah pertanyaan yang sering diajukan oleh buruh yang gajinya dibawah UMK. Pertama jika diperusahaan anda terdapat serikat pekerja, maka laporkan kepada pengurus serikat pekerja bahwa gaji anda masih dibawah UMK. Seharusnya tanpa laporan-pun pengurus serikat pekerja harus membicarakan masalah tersebut dengan perusahaan. Jika perusahaan tidak mematuhi ketentuan sedangkan mereka tidak mengajukan penangguhan ke Dinas Tenaga kerja maka anda berhak untuk melaporkan kasus tersebut. Jangan takut dipecat. Asal apa yang anda sampaikan adalah kebenaran maka anda tidak perlu takut dipecat. Tempat mencari rejeki bukan hanya diperusahaan tersebut. Kalau semua karyawan di Indonesia berani melaporkan setiap ada pelanggaran undang-undang saya kira kita semua akan hidup berdampingan secara damai saling menghargai. Tidak ada lagi permusuhan diantara buruh dengan pengusaha.

Ayo, Jadilah pekerja yang cerdas, jangan diperbudak. Sukses tuk Para Karyawan Indonesia !




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait