Analisa Faktor Politik Pengaruhi Kaum Akademik Melek Politik
Tanggal Posting : Selasa, 23 Mei 2017 | 08:57
Oleh : Hendra Abdi - Dibaca : 298 Kali
Analisa Faktor Politik Pengaruhi Kaum Akademik Melek Politik

SUKSESINDONESIA - Euforia kesuksesan Anies Baswedan yang notabene seorang akademisi di perhelatan Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu memang bukan yang pertama seorang akademisi terjun di dunia politik. Sebut saja Bima Arya yang sukses meraih gelar sebagai walikota Bogor untuk periode 2014-2019. Nurdin Abdullah di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sebelumnya, Bapak Ryaas Rasyid mantan rektor IIP (sekarang IPDN setelah digabungkan dengan STPDN, red) dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di Kabinet Persatuan Nasional dijaman presiden Abdurrahman Wahid. 

Faktanya, kemenangan Prof.Dr. Anies Baswedan seakan menjadi angin segar bagi para kaum akademisi di daerah untuk memantapkan diri terjun di kancah politik seperti pilkada. Contohnya untuk Pilkada Bupati Luwu 2018 mendatang.

anies-sandi-kemenangan-kaum-akademik

Dinamika sosial-politik di ranah akademik memang seakan menjadi dilema para kaum intelektual dimanapun berada. Dunia akademik yang cenderung dianggap penuh independensi pada akhirnya politik harus mulai digaungkan di ranah akademik. Andai yang dimaksud politik praktis, kondisi tersebut bisa saja dibenarkan. Hal yang kemudian dikhawatirkan yaitu terinfeksinya secara umum buta politik di kalangan para akademisi, khususnya di Indonesia.

Bachrianto sebagai seorang dosen di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar, pernah mengungkapkan, ’Seorang Akademisi, peneliti, ilmuwan tidak boleh bersikap naif mengenai dampak politik akibat adanya pendapat ilmiah yang kemudian disusun sebagai sebuah kebijakan politis dan dituangkan ke ranah publik.

bakal-calon-bupati-luwu-bachrianto

Jika pendapat ilmiah seorang akademisi secara politis terbukti mujarab, maka Akademisi tersebut berkewajiban untuk mengumumkan asumsi politiknya kepada kolega, dan masyarakat banyak tentang bagaimana asumsi seorang peneliti, ilmuwan dapat mempengaruhi interpretasi atas bukti-bukti ilmiah yang diajukan diatas sebuah kebijakan.”

MALPRAKTIK AKADEMIK

Berdasarkan rekaman sejarah gerakan politik di Indonesia, kaum akademisi bisa dianggap sebagai pelopor. Boedi Oetomo yang dikenal dengan Pergerakan Indonesianya menjadi contoh nyata politik yang digawangi para akademisi yang akhirnya menjadi titik kebangkitan perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. 

Menjelang dan setelah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke seantero dunia, beberapa tokoh akademik, termasuk tokoh pejuang kemerdekaan di masa lalu tampil mendominasi pemikiran masalah kebangsaan. Mereka diakui memiliki kemampuan politis plus akademik yang sama kuatnya. Sebut saja Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, Prof. Mohammad Yamin,S.H, Prof.Mr.Dr.Soepomo, Ki Hadjar Dewantara, Dr.Soekiman Wirjosandjojo, dan lain sebaginya.

bachrianto-kader-gerindra-luwu

Sesaat setelah Indonesia merdeka, kaum intelektual dari dunia akademik kerap dianggap sebagai elemen penting dalam pembangunan bangsa, baik itu ranah legislatif, yudikatif, serta eksekutif. Mereka (kaum akademisi) dilibatkan dalam proses politisasi kebijakan yang membutuhkan analisa dari sudut pandang akademik.

Ironisnya, selama ini para akademisi kerap tidak berdaya jika berhadapan dengan pemangku kekuasaan. Produk akademik mereka kadang dimanfaatkan untuk menjustifikasi kebijakan semata. Banyaknya godaan dari segi finansial, jabatan, dan popularitas  tidak akan melunturkan nalar serta moral kaum intelektual hingga rela melakukan apa yang disebut malpraktik akademik.

Produk yang dilahirkan dari sebuah penelitian ilmiah tidak jarang dimanfaatkan para politikus atau pihak penguasa demi memuluskan kepentingan politiknya. Menyebabkan, tidak sedikit kerugian yang dialami kaum akademisi karena dinamika sosial-politik akhirnya mempolitisasi produknya.

pilkada-luwu-menangkan-bachrianto

Tak sampai disitu, ada juga rezim penguasa yang kemudian berinisiatif melakukan rekayasa sosial-politik atas kajian ilmiah. Akan tetapi, apa pun itu, seorang akademisi tetap wajib bertanggung jawab politik dari setiap produk penelitiannya.

KAUM AKADEMIK HARUS MULAI MELEK POLITIK

Politisasi sebuah produk akademik memang dibutuhkan sebagai upaya untuk menilai, mengaplikasi serta mentransformasi produk ilmiah tersebut ke ranah kebijakan publik. Sehingga, Produk akademik nantinya tidak lagi seperti sebuah etalase perpustakaan atau pengisi literatur ilmiah saja.

organisasi-hmi-dukung-bachrianto-di-pilkada-luwu

Patut dipahami jika sebagian besar kebijakan politik baik di daerah maupun pusat butuh kajian akademik. Dan di sinilah, seorang akademisi diuji objektivitas ilmiahnya serta moralitas demi netralitas dari sebuah kepentingan. Pro kontra dalam sebuah debat ilmiah menjadi sebuah kewajaran, yang memang dibutuhkan untuk menyehatkan sebuah kebijakan politis.

Faktanya, tidak sedikit kalangan akademisi saat ini yang menduduki jabatan strategis baik di tingkat partai, maupun pemerintahan. Dan beberapa dari mereka masih menjunjung tinggi komitmen akademikitasnya. Konsistensi dan idealisme mereka pun umumnya berbuahkan banyak prestasi.

anak-muda-luwu-dukung-bachrianto-bupati-luwu

Memang ada beberapa yang produktif, tetapi tidak punya kekuatan untuk lepas dari belenggu penguasa. Bahkan ada yang akhirnya tergoda karena menginginkan citra dan mengenyampingkan logika, nalar serta etika. Yang paling buat miris jika ada yang tertipu karena rayuan kekayaan serta jabatan.

Adanya gambaran kecil kegagalan saat memasuki dunia sosial politik tidak berarti jika politiknya yang kotor. Tidak juga lantas menjustifikasi kalangan akademisi sebaiknya total kembali ke habitat awalnya. Toh, dinamika politik sebenarnya juga menjadi kebutuhan bagi para kaum intelektual.

Belum adanya integrasi yang memuaskan antara dunia akademik-politik bisa saja dikarenakan sistem yang kurang fasilitatif atau oknumnya yang lemah secara idealisme. 

Dan disinilah tantangan seorang Anies Baswedan di DKI Jakarta, Bachrianto Bachtiar di Pilkada Bupati Luwu 2018 yang notabene seorang akademisi untuk dapat mengedukasi pentingnya seorang akademisi harus melek politik.

"Rel politisasi Seorang Akademisi adalah KEJUJURAN. Jika moralitas serta objektivitas dijunjung tinggi, kebaikan bisa saja tercapai. Seorang akademisi Tidak Akan menjual dan mengobral gelar akademiknya, demi sebuah Kepentingan Politik Pragmatis."




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait